Dari Rumah ke Rumah: Mendengar Cerita, Menghargai Pilihan
Cerita Ibu Bibit Chatimah, Kader dan Konselor PKBI Kepulauan Riau dalam memfasilitasi akses layanan berbasis komunitas di Tanjungpinang.
Tanjungpinang, PKBI Kepri – Kesehatan keluarga tidak selalu dimulai dari ruang pelayanan kesehatan. Bagi Ibu Bibit Chatimah, kader dan konselor PKBI Kepulauan Riau, cerita tentang kesehatan justru sering ia temui ketika datang dari rumah ke rumah dan berbincang langsung dengan masyarakat.
Ketika mendampingi pasien TB, yang ditemui Bu Bibit tidak hanya persoalan pengobatan. Dari satu rumah, ia bisa menemukan cerita tentang kondisi keluarga, anak-anak, ekonomi, kesehatan reproduksi, kebutuhan kontrasepsi, hingga rencana pasangan untuk memiliki atau menunda kehamilan.
Setiap keluarga memiliki cerita yang berbeda. Ada yang hidup dengan keterbatasan ekonomi, memiliki beberapa anak dengan jarak kelahiran yang rapat, atau menghadapi kondisi yang membutuhkan perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak. Karena itu, bagi Bu Bibit, datang ke rumah bukan sekadar memastikan seseorang menjalani pengobatan, tetapi juga melihat dan mendengarkan apa yang sedang dihadapi keluarga tersebut oleh karena itu konseling menjadi pintu masuk dalam proses pendampingan komunitas.
Sebelum aktif sebagai Manajer Kasus TB Resisten Obat, Bu Bibit sudah menjadi kader PKBI sejak 2016. sebagai kader sekaligus konselor Bu Bibit menyadari bahwa kebutuhan kesehatan sering kali tidak berdiri sendiri.
“Kalau saya datang ke rumah warga untuk pendampingan TB, saya juga melihat kondisi rumahnya, anaknya berapa, usianya berapa. Dari situ kita bisa tahu kira-kira layanan apa lagi yang mereka butuhkan. Jadi kita dengarkan dulu kebutuhannya kita lakukan screening dan konseling.”
Dari proses konseling inilah kebutuhan lain sering kali muncul. Ada keluarga yang membutuhkan informasi tentang kontrasepsi, ada anak yang membutuhkan dukungan kesehatan, dan ada pula persoalan sosial maupun ekonomi yang membuat keluarga kesulitan mengakses layanan.
Bagi Bu Bibit, pembicaraan tentang kontrasepsi bukan hanya soal metode. Masyarakat perlu mengetahui pilihan yang tersedia dan bagaimana mengaksesnya.
“Kadang pintu masuknya bisa apa saja. Tapi kalau sudah di lapangan, kita harus dengar juga cerita lainnya supaya masyarakat yang kita dampingi bisa lebih sehat.”
Ketika ada masyarakat yang membutuhkan kontrasepsi, Bu Bibit akan melihat apa yang dapat difasilitasi. Jika PKBI memiliki stok, ia akan memberikan sesuai kebutuhan. Jika tidak, ia membantu menghubungkan masyarakat dengan puskesmas atau penyuluh KB.
“Kalau terkait kebutuhan kontrasepsi, kalau PKBI ada stoknya akan saya berikan. Kalau tidak, saya hubungkan dengan puskesmas atau penyuluh KB.”
Bagi Bu Bibit, perannya bukan menentukan pilihan untuk masyarakat, tetapi memastikan mereka mendapatkan informasi dan mengetahui layanan yang dapat diakses sesuai kebutuhannya.
Bu Bibit membagikan bantuan pada Kelompok Dampingan (istimewa)
Kedekatan Bu Bibit dengan masyarakat juga terbangun melalui ruang lain. Ia mendampingi anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan melakukan edukasi kepada remaja di lingkungannya. Menurutnya, masa remaja membawa banyak perubahan dan tidak semua hal mudah diceritakan kepada orang tua.
“Kadang mereka tidak mau bercerita kepada orang tua, tetapi mau bercerita kepada saya tentang hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.”
Ketika seorang remaja sudah mau bercerita, bagi Bu Bibit, langkah pertama adalah mendengarkan. Tidak harus langsung memberikan nasihat atau menentukan apa yang harus dilakukan. Jika remaja membutuhkan informasi atau layanan lebih lanjut, barulah ia membantu mencari jalan keluarnya.
Pengalaman tersebut membuat Bu Bibit memahami bahwa menjadi kader bukan berarti harus menyelesaikan semua persoalan sendiri. Ada kebutuhan yang membutuhkan tenaga kesehatan, puskesmas, penyuluh KB, kelurahan, maupun layanan lainnya. Ketika menemukan kebutuhan yang tidak dapat ditangani sendiri, ia berusaha menghubungkan masyarakat dengan pihak yang sesuai.
“Setelah merasa aman untuk bercerita, biasanya saya akan sampaikan apa yang bisa mereka lakukan. Misalnya untuk kontrasepsi, kalau PKBI punya stok akan saya berikan atau saya hubungkan dengan puskesmas dan penyuluh KB. Kalau masalahnya ekonomi, saya sampaikan ke kelurahan supaya bisa didata. Saya juga sampaikan kepada mereka apa yang bisa dilakukan untuk mengakses layanan tersebut.”
Dari rumah ke rumah, Bu Bibit menemukan bahwa satu kebutuhan kesehatan sering kali berkaitan dengan kebutuhan lainnya. Pendampingan pengobatan TB dapat membuka percakapan tentang anak, kondisi rumah, ekonomi, kontrasepsi, maupun rencana keluarga.
Di momentum Hari Kontrasepsi Sedunia, pengalaman Bu Bibit mengingatkan bahwa akses terhadap kontrasepsi dan kesehatan reproduksi tidak hanya berbicara tentang tersedianya layanan. Ada informasi yang perlu dipahami, pilihan yang perlu dihargai, dan kebutuhan yang perlu didengarkan.
Bagi Bu Bibit, mendampingi masyarakat tidak selalu dimulai dengan memberikan informasi. Sering kali dimulai dari hal sederhana: datang, mendengarkan, lalu mencari jalan bersama.
Dari rumah ke rumah, setiap keluarga membawa cerita dan kebutuhannya masing-masing. Ada yang membutuhkan dukungan pengobatan, informasi tentang kontrasepsi, rujukan layanan, atau sekadar seseorang yang bersedia mendengarkan.
Tidak semua persoalan dapat selesai dalam satu kunjungan. Namun ketika seseorang merasa didengar, mengetahui pilihannya, dan tahu ke mana harus mencari bantuan, dari situlah langkah untuk mendapatkan layanan dapat dimulai.